Rabu, 29 Februari 2012

Kalah’ Melawan Alquran, Dr Jeffrey Lang Menerima Islam

‘Kalah’ Melawan Alquran, Dr Jeffrey Lang Menerima Islam



‘Kalah’ Melawan Alquran, Dr Jeffrey Lang Menerima Islam

Senin, 07 Maret 2011 19:27 WIB
REPUBLIKA.CO.ID-Sejak kecil Dr Jeffrey Lang dikenal ingin tahu. Ia kerap mempertanyakan logika sesuatu dan mengkaji apa pun berdasarkan perspektif rasional. “Ayah, surga itu ada?” tanya Jeffrey kecil suatu kali kepada ayahnya tentang keberadaan surga, saat keduanya berjalan bersama anjing peliharaan mereka di pantai. Bukan suatu kejutan jika kelak Jeffrey Lang menjadi profesor matematika, sebuah wilayah dimana tak ada tempat selain logika.
Saat menjadi siswa tahun terakhir di Notre Dam Boys High, sebuah SMA Katholik, Jeffrey Lang memiliki keberatan rasional terhadap keyakinan akan keberadaan Tuhan. Diskusi dengan pendeta sekolah, orangtuanya, dan rekan sekelasnya tak juga bisa memuaskannya tentang keberadaan Tuhan. “Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey!” kata ayahnya ketika ia membantah keberadaan Tuhan di usia 18 tahun.
Ia akhirnya memutuskan menjadi atheis pada usia 18 tahun, yang berlangsung selama 10 tahun ke depan selama menjalani kuliah S1, S2, dan S3, hingga akhirnya memeluk Islam.
Adalah beberapa saat sebelum atau sesudah memutuskan menjadi atheis, Jeffrey Lang mengalami sebuah mimpi. Berikut penuturan Jeffrey Lang tentang mimpinya itu:
Kami berada dalam sebuah ruangan tanpa perabotan. Tak ada apa pun di tembok ruangan itu yang berwarna putih agak abu-abu.
Satu-satunya ‘hiasan’ adalah karpet berpola dominan merah-putih yang menutupi lantai. Ada sebuah jendela kecil, seperti jendela ruang bawah tanah, yang terletak di atas dan menghadap ke kami. Cahaya terang mengisi ruangan melalui jendela itu.
Kami membentuk deretan. Saya berada di deret ketiga. Semuanya pria, tak ada wanita, dan kami semua duduk di lantai di atas tumit kami, menghadap arah jendela.
Terasa asing. Saya tak mengenal seorang pun. Mungkin, saya berada di Negara lain. Kami menunduk serentak, muka kami menghadap lantai. Semuanya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Kami serentak kami kembali duduk di atas tumit kami. Saat saya melihat ke depan, saya sadar kami dipimpin oleh seseorang di depan yang berada di sisi kiri saya, di tengah kami, di bawah jendela. Ia berdiri sendiri. Saya hanya bisa melihat singkat punggungnya. Ia memakai jubah putih panjang. Ia mengenakan selendang putih di kepalanya, dengan desain merah. Saat itulah saya terbangun.
Sepanjang sepuluh tahun menjadi atheis, Jeffrey Lang beberapa kali mengalami mimpi yang sama. Bagaimanapun, ia tak terganggu dengan mimpi itu. Ia hanya merasa nyaman saat terbangun. Sebuah perasaan nyaman yang aneh. Ia tak tahu apa itu. Tak ada logika di balik itu, dan karenanya ia tak peduli kendati mimpi itu berulang.
Sepuluh tahun kemudian, saat pertama kali memberi kuliah di University of San Fransisco, dia bertemu murid Muslim yang mengikuti kelasnya. Tak hanya dengan sang murid, Jeffrey pun tak lama kemudian menjalin persahabatan dengan keluarga sang murid. Agama bukan menjadi topik bahasan saat Jeffrey menghabiskan waktu dengan keluarga sang murid. Hingga setelah beberapa waktu salah satu anggota keluarga sang murid memberikan Alquran kepada Jeffrey.
Kendati tak sedang berniat mengetahui Islam, Jeffrey mulai membuka-buka Alquran dan membacanya. Saat itu kepalanya dipenuhi berbagai prasangka.
“Anda tak bisa hanya membaca Alquran, tidak bisa jika Anda tidak menganggapnya serius. Anda harus, pertama, memang benar-benar telah menyerah kepada Alquran, atau kedua, ‘menantangnya’,” ungkap Jeffrey.
Ia kemudian mendapati dirinya berada di tengah-tengah pergulatan yang sangat menarik. “Ia (Alquran) ‘menyerang’ Anda, secara langsung, personal. Ia (Alquran) mendebat, mengkritik, membuat (Anda) malu, dan menantang. Sejak awal ia (Alquran) menorehkan garis perang, dan saya berada di wilayah yang berseberangan.”
“Saya menderita kekalahan parah (dalam pergulatan). Dari situ menjadi jelas bahwa Sang Penulis (Alquran) mengetahui saya lebih baik ketimbang diri saya sendiri,” kata Jeffrey. Ia mengatakan seakan Sang Penulis membaca pikirannya. Setiap malam ia menyiapkan sejumlah pertanyaan dan keberatan, namun selalu mendapati jawabannya pada bacaan berikutnya, seiring ia membaca halaman demi halaman Alquran secara berurutan.
“Alquran selalu jauh di depan pemikiran saya. Ia menghapus aral yang telah saya bangun bertahun-tahun lalu dan menjawab pertanyaan saya.” Jeffrey mencoba melawan dengan keras dengan keberatan dan pertanyaan, namun semakin jelas ia kalah dalam pergulatan. “Saya dituntun ke sudut di mana tak ada lain selain satu pilihan.”
Saat itu awal 1980-an dan tak banyak Muslim di kampusnya, University of San Fransisco. Jeffrey mendapati sebuah ruangan kecil di basement sebuah gereja di mana sejumlah mahasiswa Muslim melakukan sholat. Usai pergulatan panjang di benaknya, ia memberanikan diri untuk mengunjungi tempat itu.
Beberapa jam mengunjungi di tempat itu, ia mendapati dirinya mengucap syahadat. Usai syahadat, waktu shalat dzuhur tiba dan ia pun diundang untuk berpartisipasi. Ia berdiri dalam deretan dengan para mahasiswa lainnya, dipimpin imam yang bernama Ghassan. Jeffrey mulai mengikuti mereka shalat berjamaah.
Jeffrey ikut bersujud. Kepalanya menempel di karpet merah-putih. Suasananya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Ia lalu kembali duduk di antara dua sujud.
“Saat saya melihat ke depan, saya bisa melihat Ghassan, di sisi kiri saya, di tengah-tengah, di bawah jendela yang menerangi ruangan dengan cahaya. Dia sendirian, tanpa barisan. Dia mengenakan jubah putih panjang. Selendang (scarf) putih menutupi kepalanya, dengan desain merah.”
“Mimpi itu! Saya berteriak dalam hati. Mimpi itu, persis! Saya telah benar-benar melupakannya, dan sekarang saya tertegun dan takut. Apakah ini mimpi? Apakah saya akan terbangun? Saya mencoba fokus apa yang terjadi untuk memastikan apakah saya tidur. Rasa dingin mengalir cepat ke seluruh tubuh saya. Ya Tuhan, ini nyata! Lalu rasa dingin itu hilang, berganti rasa hangat yang berasal dari dalam. Air mata saya bercucuran.”
Ucapan ayahnya sepuluh tahun silam terbukti. Ia kini berlutut, dan wajahnya menempel di lantai. Bagian tertinggi otaknya yang selama ini berisi seluruh pengetahuan dan intelektualitasnya kini berada di titik terendah, dalam sebuah penyerahan total kepada Allah SWT.
Jeffrey Lang merasa Tuhan sendiri yang menuntunnya kepada Islam. “Saya tahu Tuhan itu selalu dekat, mengarahkan hidup saya, menciptakan lingkungan dan kesempatan untuk memilih, namun tetap meninggalkan pilihan krusial kepada saya,” ujar Jeffrey kini.
Jeffrey kini professor jurusan matematika University of Kansas dan memiliki tiga anak. Ia menulis tiga buku yang banyak dibaca oleh Muslim AS:  Struggling to Surrender (Beltsville, 1994); Even Angels Ask (Beltsville, 1997); dan Losing My Religion: A Call for Help (Beltsville, 2004). Ia memberi kuliah di banyak kampus dan menjadi pembicara di banyak konferensi Islam.
Ia memiliki tiga anak, dan bukan sebuah kejutan anaknya memiliki rasa keingintahuan yang sama. Jeffrey kini harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama yang dulu ia lontarkan kepada ayahnya. Suatu hari ia ditanya oleh anak perempuannya yang berusia delapan tahun, Jameelah, usai mereka shalat Ashar berjamaah. “Ayah, mengapa kita shalat?”
“Pertanyaannya mengejutkan saya. Tak sangka berasal dari anak usia delapan tahun. Saya tahu memang jawaban yang paling jelas, bahwa Muslim diwajibkan shalat. Tapi, saya tak ingin membuang kesempatan untuk berbagi pengalaman dan keuntungan dari shalat. Bagaimana pun, usai menyusun jawaban di kepala, saya memulai dengan, ‘Kita shalat karena Tuhan ingin kita melakukannya’,”
“Tapi kenapa, ayah, apa akibat dari shalat?” Jameela kembali bertanya. “Sulit menjelaskan kepada anak kecil, sayang. Suatu hari, jika kamu melakukan shalat lima waktu tiap hari, saya yakin kami akan mengerti, namun ayah akan coba yang terbaik untuk menjawan pertanyaan kamu.”
Redaktur: Anwar
Sumber: Dari Berbagai Sumber

Senin, 27 Februari 2012

LAPORAN HASIL KELEMAHAN LOMBA ARTIKEL

Secara keseluruhan dari naskah artikel yang masuk, masih banyak kelemahan yang perlu diperbaiki. Adapun kekurangan yang rata-rata ditemukan di karya peserta adalah:
  1. Tulisan yang melenceng dari  tema lomba.
  2. Topik yang diangkat kurang aktual.
  3. Analisis yang dangkal dan kebanyakan berangkat dari dugaan semata yang sulit diterima secara logika.
  4. Kurangnya referensi pembanding untuk mendukung argumentasi yang dibanggun sehingga bisa meyakinkan pembaca (Dewan Juri).
  5. Struktur artikel yang tidak padu, penulisan yang melompat-lompat tidak  tersusun secara sistematis sesuai dengan kaidah penulisan artikel yang baik.
  6. Kurang memperhatikan penulisan.
  7. Kaidah penulisan yang kurang memperhatikan EYD, gaya penulisan yang kaku dan terkadang susunan logika kalimatnya berantakan sehingga susah dicerna pembaca.
  8. Penulisan artikel yang tidak memperhatikan persyaratan dari panitia.

Hasil Penilaian Lomba Menulis Artikel 2011
No.
Judul Artikel
Kriteria Penilaian
Struktur tulisan
Kedalaman analisis masalah
Teknik penyajian tulisan
Solusi
Jumlah Nilai
Batas Nilai
5-20
5-30
5-20
5-30
1
HIV/Aids dan Karakter Bangsa Indonesia
15
19
15
16
65
2
Application  of  CSR (Corporate Social Responsibility) For Company
12
15
14
10
51
3
Dalam Genggaman
11
10
11
10
42
4
Ekonomi Membantu tapi Salah Penetapan
12
12
12
12
48
5
GENERASI ILMIAH PLUS
11
11
10
13
45
6
Islam, Pancasila dan Pendidikan Karakter
17
21
17
19
74
7
Implementasi Seputar Pendidikan Berkarakter
15
21
16
18
70
8
Kami Adalah Lilin Kecil Yang Siap Melayani
11
9
12
8
40
9
Kembali Ke Lokalitas Dengan Cerdas
9
11
10
12
42
10
Program Wajib Menanam Konsep Pembangunan Lingkungan yang Berkelanjutan
14
15
16
12
57
11
Konsep Pembangunan Lingkungan yang Berkelanjutan
10
14
10
12
46
12
Konsep Pembangunan Pendidikan yang Berkarakter
11
12
9
10
42
13
Karakter Generasi Muda Cermin Bangsa
12
15
13
12
52
14
Ketimpangan Ekonomi Era Desentralisasi Fiskal
16
19
15
20
70
15
Kita Harus Menjadi Bangsa Yang “Penakut”
13
12
13
10
48
16
Konsep Pembangunan Pendidikan Yang Berkarakter
12
13
10
12
47
17
Konsep Pembangunan Lingkungan Secara Berkelanjutan
12
11
8
12
43
18
Konsep Pendidikan Indonesia yang Berkarakter
17
14
15
12
58
19
Konsep Ramah Lingkungan yang Keliru
18
20
16
17
71
20
Media Sebagai Elemen Penentu Pendidikan Berkarakter
18
21
17
20
76
21
Membangun Desa Industri Sampah
14
17
13
15
59
22
Membangun Generasi yang Berkarakter Sejak Dini
17
19
18
18
72
23
Membangun Pendidikan Yang Berkarakter
15
17
15
16
63
24
Membangun Nasionalisme Generasi Muda
14
16
15
12
57
25
Menebar Benih Eko-Efisien di Bumi Indonesia
17
18
19
13
67
26
Menjaga alam  Indonesia dengan mudah
10
11
9
12
42
27
Menyelamatkan Saudara Kita di Tengah Lautan
15
16
14
17
62
28
Perkembangan Pembangunan Ekonomi Kerakyatan yang Berkeadilan di Indonesia
17
21
17
13
68
29
Rekonstruksi Potensi Lokal Berbasis Ekonomi Kreatif
16
19
18
16
69
30
Romansa Nasionalisme
15
17
17
15
64
31
“RUH-nya” Seorang Guru
12
13
11
9
45
32
Saatnya Beranjak dari Kemiskinan
17
21
18
15
71
33
Sadari Apa yang Diketahui Pemuda Indonesia Jangan Kalah Sadar
10
13
12
10
45
34
Sosialisasi Nasionalisme Dan Karakter Bangsa Pada Guru
13
12
13
11
49
35
Urgensi Pemilihan Umum Kepala Daerah Di Indonesia
15
15
14
12
56